Orang kecil yang kita maksudkan di sini adalah orang-orang kecil dalam hal kekuasaan dan materi, karena sesungguhnya kekuasaan dan materi turut menentukan besar kecilnya kuantitas amalan seseorang. Kira-kira orang-orang seperti ini adalah karyawan/pegawai tanpa jabatan. Kalau wiraswasta kira-kira pedagang keliling, pedagang kaki lima dan orang-orang yang penghasilannya pas-pasan untuk biaya hidup, kalaupun ada lebih tidak seberapa.
Menjadi pertanyaan apakah dengan kondisi serba pas-pasan alias orang kecil masih memungkinkan untuk beramal yang nilainya cukup signifikan di hadapan Allah SWT? Tentu jawabannya adalah ya, karena kalau tidak berarti Allah SWT tidak Maha Adil, karena membedakan-bedakan hambanya dalam hal kemampuan ekonomi dan kekuasaan sementara tidak memberikan kesempatan yang sama untuk beramal.
Bagi orang kecil dalam beramal janganlah mengikuti pola beramalnya orang besar, apalagi dari sisi kuantitasnya tentu tidak mungkin. Tapi apakah dengan kuantitas yang jauh lebih kecil tapi nilai bisa sama? Tentu saja bisa bahkan tidak menutup kemungkinan mengalahkan nilai amalan yang kuantitasnya lebih besar.
Yang menentukan nilai amalan ada dari sisi keikhlasannya. Sebesar apapun amalan kalau keikhlasannya rendah bahkan jika tidak maka amalannya tidak bernilai sama sekali. Biasanya makin besar kuantitas amalan makin besar pula tantangan keikhlasannya. Misalnya seseorang menyumbang jutaan rupiah ke masjid tentu lebih sulit menghindari sifat riya yang mungkin muncul dibanding dengan menyumbang hanya beberapa ribu rupiah.
Jika orang besar misalnya bersedakah untuk pembangunan masjid sampai jutaan bahkan puluhan juta rupiah maka wajar jika mencantumkan namanya, diumumkan dan sebagainya agar diketahui khalayak. Bagi kita orang kecil tidak perlu melakukan hal yang sama, bersedakah untuk pembangunan masjid dengan seratus ribu rupiah sebaiknya cukup mencantumkan hamba Allah dan langsung dimasukkan di kotak amal, tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT sang penilai amalan yang paling adil. Sedekah yang cuma seratus ribu rupiah tadi bisa jadi nilainya lebih besar jika benar-benar dengan ikhlas dibanding sumbangan yang jumlahnya puluhan juta rupiah tapi disertai dengan perasaan riya.
Hal kecil lainnya yang kecil kemungkinan dilakukan oleh orang besar disebabkan karena kesibukannya tapi menjadi hal mudah bagi orang kecil adalah kepedulian pada rumah Allah SWT alias masjid. Kalau orang besar habis sholat mungkin paling cepat meninggalkan masjid, tapi bagi orang kecil karena kesibukannya tidak terlalu maka masih ada cukup waktu tinggal di masjid. Tidak ada salahnya kalau mengisi waktu beberapa menit untuk tadarus dan berzikir, sungguh kelihatan sepele tapi dilakukan dalam keadaan ikhlas dimana sebagian besar orang telah meninggalkan masjid maka Insya Allah sungguh besar nilanya. Tidak lupa pula sebelum meninggalkan masjid masih sempat memperhatikan kipas dan lampu tidak perlu berfikir bahwa ada marbot (petugas) masjid yang punya tugas, mungkin hanya Allah SWT yang melihat kita saat itu maka Insya Allah tinggi bobot keikhlasannya.
Dalam perjalanan menuju tempat kerja, berhenti di traffic light kita dihampiri oleh anak-anak kecil yang mengemis, keluarkan recehan uang seribuan. Insya Allah bobot keikhlasannya bisa jadi tinggi karena kita mengeluarkan uang yang tidak seberapa nilainya, sehingga kita merasa ikhlas melakukannya. Apalagi perlu dihindari untuk menggerutu apalagi menghardik apabila tidak ada recehan di saku.
Masih dalam perjalanan, daripada pikiran diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat lebih baik sambil berzikir. Berzikir adalah pekerjaan yang sangat ringan tapi nilainya sangat besar. Sekali mengucapkan "Laailaaha Illallah" maka nilainya lebih utama dari seisi langit dan bumi. Kira-kira kalau perjalanan kita tempuh perjalanan 30 menit saja, berapa kali kira-kira kita dapat mengucapkan zikir tersebut? berapkah nilainya? Subhanallah, sungguh Allah memberi kita kesempatan beramal dimanapun dan kapanpun.
Tentu masih banyak amalan-amalan kecil lainnya yang bisa kita kerjakan, tidak berat dan tidak membebani. Yang terpenting dari semua itu adalah memelihara untuk tetap istiqomah, karena Allah SWT lebih menilai kepada sikap keistiqomahan kita dalam beramal sebagaimana Rasullullah SAW selalu contohkan.
Demikian sekelumit tulisan saya, jazaakumullahu khairan.
Wallahu 'alam
aymks20150806