Kamis, 06 Agustus 2015

Amalan Orang Kecil

Orang kecil yang kita maksudkan di sini adalah orang-orang kecil dalam hal kekuasaan dan materi, karena sesungguhnya kekuasaan dan materi turut menentukan besar kecilnya kuantitas amalan seseorang. Kira-kira orang-orang seperti ini adalah karyawan/pegawai tanpa jabatan. Kalau wiraswasta kira-kira pedagang keliling, pedagang kaki lima dan orang-orang yang penghasilannya pas-pasan untuk biaya hidup, kalaupun ada lebih tidak seberapa.

Menjadi pertanyaan apakah dengan kondisi serba pas-pasan alias orang kecil masih memungkinkan untuk beramal yang nilainya cukup signifikan di hadapan Allah SWT? Tentu jawabannya adalah ya, karena kalau tidak berarti Allah SWT tidak Maha Adil, karena membedakan-bedakan hambanya dalam hal kemampuan ekonomi dan kekuasaan sementara tidak memberikan kesempatan yang sama untuk beramal.

Bagi orang kecil dalam beramal janganlah mengikuti pola beramalnya orang besar, apalagi dari sisi kuantitasnya tentu tidak mungkin. Tapi apakah dengan kuantitas yang jauh lebih kecil tapi nilai bisa sama? Tentu saja bisa bahkan tidak menutup kemungkinan mengalahkan nilai amalan yang kuantitasnya lebih besar.

Yang menentukan nilai amalan ada dari sisi keikhlasannya. Sebesar apapun amalan kalau keikhlasannya rendah bahkan jika tidak maka amalannya tidak bernilai sama sekali. Biasanya makin besar kuantitas amalan makin besar pula tantangan keikhlasannya. Misalnya seseorang menyumbang jutaan rupiah ke masjid tentu lebih sulit menghindari sifat riya yang mungkin muncul dibanding dengan menyumbang hanya beberapa ribu rupiah. 

Jika orang besar misalnya bersedakah untuk pembangunan masjid sampai jutaan bahkan puluhan juta rupiah maka wajar jika mencantumkan namanya, diumumkan dan sebagainya agar diketahui khalayak. Bagi kita orang kecil tidak perlu melakukan hal yang sama, bersedakah untuk pembangunan masjid dengan seratus ribu rupiah sebaiknya cukup mencantumkan hamba Allah dan langsung dimasukkan di kotak amal, tidak ada yang tahu kecuali Allah SWT sang penilai amalan yang paling adil. Sedekah yang cuma seratus ribu rupiah tadi bisa jadi nilainya lebih besar jika benar-benar dengan ikhlas dibanding sumbangan yang jumlahnya puluhan juta rupiah tapi disertai dengan perasaan riya.

Hal kecil lainnya yang kecil kemungkinan dilakukan oleh orang besar disebabkan karena kesibukannya tapi menjadi hal mudah bagi orang kecil adalah kepedulian pada rumah Allah SWT alias masjid. Kalau orang besar habis sholat mungkin paling cepat meninggalkan masjid, tapi bagi orang kecil karena kesibukannya tidak terlalu maka masih ada cukup waktu tinggal di masjid. Tidak ada salahnya kalau mengisi waktu beberapa menit untuk tadarus dan berzikir, sungguh kelihatan sepele tapi dilakukan dalam keadaan ikhlas dimana sebagian besar orang telah meninggalkan masjid maka Insya Allah sungguh besar nilanya. Tidak lupa pula sebelum meninggalkan masjid masih sempat memperhatikan kipas dan lampu tidak perlu berfikir bahwa ada marbot (petugas) masjid yang punya tugas, mungkin hanya Allah SWT yang melihat kita saat itu maka Insya Allah tinggi bobot keikhlasannya.

Dalam perjalanan menuju tempat kerja, berhenti di traffic light kita dihampiri oleh anak-anak kecil yang mengemis, keluarkan recehan uang seribuan. Insya Allah bobot keikhlasannya bisa jadi tinggi karena kita mengeluarkan uang yang tidak seberapa nilainya, sehingga kita merasa ikhlas melakukannya. Apalagi perlu dihindari untuk menggerutu apalagi menghardik apabila tidak ada recehan di saku.

Masih dalam perjalanan, daripada pikiran diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat lebih baik sambil berzikir. Berzikir adalah pekerjaan yang sangat ringan tapi nilainya sangat besar. Sekali mengucapkan "Laailaaha Illallah" maka nilainya lebih utama dari seisi langit dan bumi. Kira-kira kalau perjalanan kita tempuh perjalanan 30 menit saja, berapa kali kira-kira kita dapat mengucapkan zikir tersebut? berapkah nilainya? Subhanallah, sungguh Allah memberi kita kesempatan beramal dimanapun dan kapanpun.

Tentu masih banyak amalan-amalan kecil lainnya yang bisa kita kerjakan, tidak berat dan tidak membebani. Yang terpenting dari semua itu adalah memelihara untuk tetap istiqomah, karena Allah SWT lebih menilai kepada sikap keistiqomahan kita dalam beramal sebagaimana Rasullullah SAW selalu contohkan.

Demikian sekelumit tulisan saya, jazaakumullahu khairan.

Wallahu 'alam

aymks20150806

Kamis, 26 Maret 2015

MENANTI AJAL


Tidak dipungkiri sebagian besar manusia tabu membicarakan tentang kematian dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Padahal ketika dia ditanya seratus persen pasti menjawab dengan pasti dan membenarkan bahwa mereka kelak akan menemui ajal. Tapi mengapa mereka senantiasa dalam kesehariannya malah banyak menghindari membicarakan hal tersebut? Disitulah letak permasalahannya.

Kita juga yakin bahwa sesungguhnya ada empat hal yang sudah ditetapkan oleh Allah terhadap manusia sebelum kelahirannya, salah satunya adalah masalah umur atau kapan ajal akan datang menjemputnya. Cuma menjadi rahasia Allah bagi manusia bahwa mereka tidak akan mengetahui kapan ajalnya akan tiba, kecuali kepada hamba-hamba yang terpilih diberi hikmah sehingga mengetahui tanda-tanda datangnya ajal.

Jika demikian adanya seharusnya kita membuat timer atau menghitung mundur dalam menanti ajal. Lantas apa yang menjadi acuan untuk menghitung mundur? Sebagai contoh yang mungkin lebih bijak adalah kita mengambil umur Rasulullah SAW. sebagai patokan, karena beliu sendiri pernah menyatakan bahwa rata-rata umur umatnya seperti umurnya, meskipun ada sebagian yang dilebihkan atau dikurangkan dari itu. Sebagaimana kita ketahui umur Rasulullah SAW. adalah 62 tahun lebih. Beliau lahir di Mekkah pada tanggal 20 April 570 dan wafat di Madinah 8 Juni 632. Jadi kalau dihitung dalam hari, umur beliau 22.694 hari. Sekarang mari kita coba praktikkan, sebagai contoh penulis sendiri sekarang berusia 15.826 hari per tanggal hari ini, maka sisa hidup penulis jika berpatokan dari umur Rasulullah SAW. sisa 6.868 hari. Setiap hari angka tersebut terus berkurang satu, Bagaimana rasanya jika angkanya tinggal puluhan, mungkin kurang lebih apa yang dirasakan oleh seorang terpidana mati yang apabila diberitahu tanggal eksekusinya dilaksanakan.

Namun kita juga tidak boleh lengah, karena umur Rasulullah SAW. sebagai patokan hanya sebuah contoh, karena sesungguhnya bisa saja umur kita lebih pendek dari itu. Jangan sampai bagi yang masih muda beranggapan nanti umur sudah tua baru banyak beramal. Disitulah tantangannya mengapa ajal itu menjadi rahasia karena hanya orang-orang pilihan saja yang akan terseleksi yaitu yang penuh persiapan menghadapi ajal. Siapakah yang dimaksud? Yaitu orang-orang yang senantiasa siap sedia setiap hari menghadapi ajal. Bagaimanakah bentuk kesiap-sediannya itu? Yaitu senantiasa memperbanyak ibadah dan kebaikan dalam kesehariannya. Bahkan waktunya lebih banyak digunakan untuk beribadah dibanding untuk kemaslahatan dunianya. Aktifitas dunianya semata-mata untuk menunjang untuk aktifitas ibadahnya.

Hakekat khusnul khatimah adalah bukan semata ucapan akhir hayatnya “Laailahaillallah” tapi bagaimana ia berproses sehingga ucapan tauhid itu bisa terucap ketika ajal sudah menjemput. Sudah menjadi sunnatullah dan rasional bahwa manusia harus berlatih untuk mahir, misalnya seorang pemain sepak bola harus berlatih terus-menerus sejak usia dini untuk dapat mahir dan menjadi pemain sepak bola profesional. Jadi untuk dapat mengucapkan kalimat “Laailahaillallah” di akhir hayat maka berlatihlah dari sekarang, hitung mundurlah sisa hidup anda, niscaya Allah akan menolong dan menuntun kita di jalan yang benar selama menjalani hidup menuju ajal.

Wallahu ‘alam bissawab.

Makassar, 26 Maret 2015

arfanyunus@gmail.com