Tidak dipungkiri sebagian besar
manusia tabu membicarakan tentang kematian dan hal-hal yang berkaitan
dengannya. Padahal ketika dia ditanya seratus persen pasti menjawab dengan
pasti dan membenarkan bahwa mereka kelak akan menemui ajal. Tapi mengapa mereka
senantiasa dalam kesehariannya malah banyak menghindari membicarakan hal
tersebut? Disitulah letak permasalahannya.
Kita juga yakin bahwa
sesungguhnya ada empat hal yang sudah ditetapkan oleh Allah terhadap manusia
sebelum kelahirannya, salah satunya adalah masalah umur atau kapan ajal akan
datang menjemputnya. Cuma menjadi rahasia Allah bagi manusia bahwa mereka tidak
akan mengetahui kapan ajalnya akan tiba, kecuali kepada hamba-hamba yang
terpilih diberi hikmah sehingga mengetahui tanda-tanda datangnya ajal.
Jika demikian adanya seharusnya
kita membuat timer atau menghitung mundur dalam menanti ajal. Lantas apa yang
menjadi acuan untuk menghitung mundur? Sebagai contoh yang mungkin lebih bijak
adalah kita mengambil umur Rasulullah SAW. sebagai patokan, karena beliu
sendiri pernah menyatakan bahwa rata-rata umur umatnya seperti umurnya,
meskipun ada sebagian yang dilebihkan atau dikurangkan dari itu. Sebagaimana
kita ketahui umur Rasulullah SAW. adalah 62 tahun lebih. Beliau lahir di Mekkah pada tanggal 20 April 570 dan wafat di Madinah 8 Juni 632. Jadi kalau dihitung dalam hari, umur beliau 22.694 hari. Sekarang mari kita coba
praktikkan, sebagai contoh penulis sendiri sekarang berusia 15.826 hari per tanggal hari ini, maka sisa hidup penulis jika berpatokan dari umur Rasulullah SAW. sisa 6.868 hari. Setiap hari angka tersebut terus berkurang satu, Bagaimana rasanya jika angkanya tinggal puluhan, mungkin kurang lebih apa yang dirasakan oleh seorang terpidana mati yang apabila diberitahu tanggal eksekusinya dilaksanakan.
Namun kita juga tidak boleh
lengah, karena umur Rasulullah SAW. sebagai patokan hanya sebuah contoh, karena
sesungguhnya bisa saja umur kita lebih pendek dari itu. Jangan sampai bagi yang
masih muda beranggapan nanti umur sudah tua baru banyak beramal. Disitulah
tantangannya mengapa ajal itu menjadi rahasia karena hanya orang-orang pilihan
saja yang akan terseleksi yaitu yang penuh persiapan menghadapi ajal. Siapakah
yang dimaksud? Yaitu orang-orang yang senantiasa siap sedia setiap hari
menghadapi ajal. Bagaimanakah bentuk kesiap-sediannya itu? Yaitu senantiasa
memperbanyak ibadah dan kebaikan dalam kesehariannya. Bahkan waktunya lebih
banyak digunakan untuk beribadah dibanding untuk kemaslahatan dunianya.
Aktifitas dunianya semata-mata untuk menunjang untuk aktifitas ibadahnya.
Hakekat khusnul khatimah adalah
bukan semata ucapan akhir hayatnya “Laailahaillallah” tapi bagaimana ia
berproses sehingga ucapan tauhid itu bisa terucap ketika ajal sudah menjemput.
Sudah menjadi sunnatullah dan rasional bahwa manusia harus berlatih untuk
mahir, misalnya seorang pemain sepak bola harus berlatih terus-menerus sejak
usia dini untuk dapat mahir dan menjadi pemain sepak bola profesional. Jadi
untuk dapat mengucapkan kalimat “Laailahaillallah” di akhir hayat maka
berlatihlah dari sekarang, hitung mundurlah sisa hidup anda, niscaya Allah akan
menolong dan menuntun kita di jalan yang benar selama menjalani hidup menuju
ajal.
Wallahu ‘alam bissawab.
Makassar, 26 Maret 2015
arfanyunus@gmail.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar